Cek Tarif

Cek Tarif Trawlpack | Trawlbens Indonesia
Tidak ada data

Trawlbens Terdekat Jakarta

Trawlbens ada disekitar anda untuk membantu pengiriman barang anda

Kenapa Harus Pakai Trawlpack?

Bisa Kirim 10 Kg Dengan Harga Kargo

Minimum pengiriman hanya 10 kg dengan jaminan harga termurah

Lebih Murah Dengan Tarif Kubikasi

Pengiriman barang dengan jumlah besar akan menurunkan biaya pengiriman hingga 50%

Atur Pengiriman Dalam Satu Aplikasi

Proses order, lacak pengiriman, dan sistem pembayaran bisa dilakukan dengan mudah melalui Aplikasi Pengiriman Trawlbens

Layanan Door to Door Atau Pickup

Trawlbens melayani jemput antar barang langsung ke rumah tanpa minimum pengiriman

Customer Service 24 Jam

Customer service selalu siap selama 24 jam non-stop untuk mmebantu anda dalam mengatasi semua kendala dalam pengiriman Trawlbens

Jangkauan Pengiriman Terluas Ke Wilayah Indonesia

Mitra Trawlbens yang tersebar di kota besar di Indonesia dapat menjangkau pengiriman hingga tingkat kecamatan dan kelurahan

Yuk Berlangganan Sekarang!

Kirim barang dengan sistem pelayanan dan pengiriman lebih nyaman, pembayarannya pun fleksibel dengan cara pay later atau TOP (Term of Payment).

Testimoni Customer Trawlbens

Terpercaya Oleh Brand

Cengkeh dan Pala di Tidore Kepulauan

Tidore merupakan salah satu tanah penghasil utama cengkeh, di antara  wilayah kepulauan di sekitaran Maluku Utara seperti Ternate, Moti, Makian, dan Bacan. Tidore memiliki wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan kepulauan ternate, yaitu 1.550 km². Pulau Tidore didominasi oleh Kie Matubu yaitu gunung berapi tua dengan ketinggian 1730 meter di atas permukaan laut. 

Sebagai wilayah penghasil cengkeh dan pala, menjadikan masyarakat Tidore mengandalkan penjualan hasil cengkeh untuk kebutuhan sehari-harinya. Dibandingkan dengan produknya tanaman lain, memang masyarakat Tidore terkonsentrasi dengan tanaman cengkeh. Karena mengandalkan hasil produksi  tanaman cengkeh, sehingga jika masyarakat Tidore sudah mendapatkan hasil penjualan Cengkeh maka mereka dapat memenuhi kebutuhan harian mereka. 

Tidore merupakan salah satu penghasil cengkeh terbesar di Indonesia dan memegang peranan penting dalam perdagangan rempah dunia. Meskipun demikian  budidaya tanaman Cengkeh ternyata baru dimulai perempat pertama abad ke-16. Pada masa itu, meskipun Tidore belum memiliki pelabuhan yang digunakan sebagai tempat kapal-kapal berlabuh, namun Tidore berhasil menghasilkan sekitar 1400 bahar cengkeh setiap tahunnya. Melihat peluang dan potensi yang besar terhadap produksi Cengkeh, akhirnya penguasa Tidore kala itu, memindahkan ibukotanya ke pesisir dengan tujuan agar jalur pesisir berkaitan dengan melesatnya pemasukan perdagangan.

Dalam sejarahnya, cengkeh di Tidore tumbuh dengan subur menyebabkan masyarakat dari Kepulauan Banda pun sering berlayar dan berlabuh di kota Mareku untuk mendapatkan cengkeh yang ditukarkan dengan kain Gujarat. Para pedagang Tidore membantu saudagar Banda untuk mendapatkan simpanan cengkeh. Namun, masa kejayaan Tidore meredam ketika Sultan Al Mansur mulai bersekutu dengan orang-orang Spanyol dan mendirikan pasar untuk kepentingan transaksi perniagaan. Dalam perkembangannya hingga saat ini, jejak Jalur Rempah di Tidore yang terjadi di masa lampau, masih bisa rasakan. Ada banyak peninggalan-peninggalan sejarah, seperti Benteng Tahoela, Masjid Sultan Tidore, Benteng Tsjobbe, hingga Dermaga Sultan Tidore yang ditetapkan sebagai cagar budaya. 

Pelabuhan Speedboat Tidore 

Transportasi tentu menjadi kebutuhan primer dalam kemajuan suatu daerah, selain memang digunakan sebagai transportasi umum oleh masyarakat, tapi juga diperlukan sebagai penghubung pergerakan ekonomi daerah tersebut. Tidore memiliki Transportasi diantara mikrolet, becak motor, ojek , dan kapal feri untuk lintas daerah. Contohnya jika Anda dari Kota Ternate Anda bisa menggunakan Feri dengan waktu tempuh 30 menit dan speedboat  dengan waktu tempuhnya lebih cepat yaitu kurang dari 10 menit. 

Tidore Kepulauan memiliki tiga pelabuhan penyeberangan speedboat yaitu pelabuhan penyeberangan Rum-Bastiong, Tidore-Loleo, serta Loleo-Tidore. Pelabuhan Speedboat digunakan untuk mengangkut penumpang yang ingin menyebrang dari satu pulau ke pulau lainnya. Penggunaan Speedboat ini tentu sangat efektif dan efisien karena bisa memangkas waktu lebih banyak.

Bagi masyarakat Tidore, mereka menggunakan speedboat untuk menunjang aktivitas harian mereka, seperti pergi ke pasar di luar pulau, berobat ke rumah sakit di luar pulau, dan lain sebagainya. Mungkin jika dibayangkan dengan kondisi Anda, naik speedboat sama seperti Anda ketika naik angkot atau bus kota.Tarif yang ditawarkan sekitar Rp 10 ribu hingga 15 ribu untuk sekali perjalanan. Memang cukup mahal dibandingkan dengan angkutan umum di Pulau Jawa, oleh karena itu masyarakat Tidore memaksimalkan pemenuhan kebutuhannya masih di kawasan Pulau Tidore saja.

Kopi Dabe Tidore

Kepulauan Tidore di Maluku Utara sudah dikenal sebagai penghasil cengkeh, pala, dan kayu manis. Dari rempahan tersebut dibuatlah berbagai macam olahan makanan dan minuman khas Tidore salah satunya kopi dabe. Konon dalam sejarahnya diceritakan bahwa kopi dabe merupakan minuman istimewa yang hanya disajikan pada tamu-tamu kehormatan Kesultanan Tidore di masa lalu.

Nama kopi dabe berasal dari cara pembuatannya, yaitu Dabe yang artinya tambahan bahan pada kopi. Sehingga Kopi Dabe adalah kopi yang direbus bersama cengkeh, pala, dan kayu manis di dalam kuali tanah liat. Selain itu Jahe dan daun pandan juga ditambahkan untuk menghadirkan aroma khas. Setelah mendidih, kopi disaring dan bisa langsung dinikmati dengan ditemani pisang mulu bebe goreng.  

Bahan utama dari Kopi Dabe justru terletak pada bahan tambahannya, sehingga Anda bisa juga membuatnya di rumah. Untuk Kopinya kopi apa? Jenis kopinya dibebaskan sesuai selera Anda karena memang utamanya adalah bahan tambahan. Jika Anda tidak memiliki kuali tanah liat? Maka Anda bisa menggunakan Panci. Jika Anda tidak ada cengkeh, pala, kayu manis maupun pandan dalam bentuk utuh? Maka Anda bisa menggunakan bahan bubuknya. Selamat mencoba bereksperimen.                   

Mengenal Tradisi Barifola Khas Tidore Kepulauan

Setiap daerah memiliki kebiasaan atau kebudayaan yang unik, kebudayaan tersebut terbentuk karena perilaku yang secara masif dan berkala dilakukan oleh masyarakat, salah satunya budaya Barifola dari Tidore. Barifola berasal dari dua kata bahasa Tidore yaitu “bari” yang artinya saling membantu atau gotong royong dan “fola” yaitu rumah. Maka sederhananya, Barifola adalah kegiatan bergotong-royong membangun rumah.

Barifola merupakan tradisi gotong-royong membangun rumah warga yang kurang mampu yang digagas Ikatan Keluarga Tidore Maluku Utara sejak tahun 2008. Hingga tahun 2017 melalui tradisi Barifola, sudah membangun sedikitnya 180 unit rumah keluarga miskin secara swadaya. Tentunya hal ini merupakan langkah yang nyata dan berdampak bagi masyarakat Tidore.

Dalam sejarahnya diceritakan bahwa, tradisi Barifola berawal pada abad 13 pada saat Kesultanan Tidore untuk mewujudkan masyarakat sejahtera. Namun, dalam perkembangannya ternyata pada tahun 1990-an tradisi ini sempat mengalami kemunduran dan diperuntukan hanya untuk pembangunan rumah ibadah saja. Kemudian, pada tahun 2008 kembali digiatkan tradisi Barifola tersebut untuk mewujudkan strata sosial kelompok masyarakat Tidore agar mendapatkan rumah layak huni.

Terimakasih Telah Berkunjung Di Website Trawlbens
Kepuasan Anda merupakan Prioritas Trawlbens dan jangan lupa Cek Ongkir dan Cek Tarif pengiriman Kargo ke Seluruh wilayah indonesia dijamin ongkir Termurah dan Terpercaya.
700 Vote